kurniawangunadi

Cara Hidup

Pada tanggal yang sama, dua bulan yang lalu saya masih mengerjakan slide presentasi untuk sidang tugas akhir keesokan paginya. Dua bulan kemudian saya sedang duduk di lantai ruang kaca studio sambil mengerjakan maket dan menghitung material yang dibutuhkan.

Waktu berasa begitu cepat. Dulu di Desember saya selalu berpikir bagaimana rasanya tanggal 9 Januari. H+1 setelah saya sidang yang ternyata Luna -laptop kesayangan saya- tiba-tiba rusak. Untung saja H+1.

Hari ini saya sedang mengerjakan banyak sekali hal sambil menunggu wisuda yang masih satu bulan setengah lagi. Lama sekali ya. Kampus gajah hanya punya tiga periode wisuda soalnya.

Diluar sedang hujan. Deras sekali. Di kota kecil ini secara perhitungan saya sudah tinggal sejak bulan Oktober . Berarti sudah hampir enam bulan. Hidup pasca kuliah memang sesuatu. Beberapa hari ini saya sering lupa hari. Hanya ingat tanggal saja dari jam tangan yang selalu menempel.

Kesibukan ini benar-benar jauh lebih sibuk dibanding saat kuliah. Mungkin ini rasanya hidup pasca kampus. Ah iya, soal masa depan. Setiap orang yang lulus kuliah seringkali di sibukkan dengan pikiran-pikiran mengenai pekerjaan. Ada yang sibuk ingin membangun ada pula yang sibuk membuat surat lamaran.

Dan sejak tingkat tiga dulu saya sudah memutuskan untuk tidak melamar pekerjaan kemanapun. Sampai dua bulan setelah selesai sidang ini bahkan saya sama sekali tidak berpikir untuk melamar pekerjaan di perusahaan manufaktur/mulitnasional. Saya tahu apa yang saya cari dan saya melakukannya. Ketika orang tua bingung anaknya mau jadi apa. Saya justru bertanya-tanya, kiranya Allah ingin saya menjadi ‘siapa’ atau ‘apa’.

Saya sedang mencari kebermanfaatan saya sendiri untuk hidup orang lain, untuk alam sekitar. Saya menghindari kota besar seperti Jakarta. Saya tidak ingin kehidupan pikiran saya disibukkan denga uang. Pikiran tentang uang (materi) yang selalu membuat banyak manusia hidup seperti robot.

Saya tidak mau kebahagiaan saya diatur oleh lembaran kertas. Hari ini saya belajar tentang itu. Bahwa banyak hal di dunia ini yang sama sekali tidak bisa dinilai dengan uang.

Masalah masa depan yang lain. Masih banyak, seperti dengan siapa saya akan menikah. Mungkin tahun depan ditanggal dan bulan yang sama, saya sedang bercengkerama di satu meja dengan seseorang. Dengan segelas air putih hangat atau nasi goreng. Mungkin saja kan. Atau justru sedang berada di negeri lain sebab saya masih mau melanjutkan pendidikan saya sebagaimana cita-cita orang tua yang kemudian menjadi cita-cita saya juga.

Kita, dalam hal ini saya sendiri, bisa memutuskan hendak hidup dengan cara yang seperti apa. Apakah seperti kebanyakan orang diluar sana atau dengan cara sendiri. Kini saya paham bahwa saya hidup dengan cara saya sendiri, meski berbekal stampel cap gajah yang sangat memukau, mungkin saya tidak akan menggunakannya kecuali ketika saya mau melanjutkan sekolah.

Apalah arti almamater jika hanya digunakan sebagai patokan kesuksesan dan sekedar sarana melamar pekerjaan di perusahaan kapital. Jika kampus hanya bergerak seperti mesin pencipta pekerja untuk perusahaan multinasional yang itupun bukan milik negeri sendiri. Selamanya kampus hanya akan mencetak tipikal manusia yang sama. Cerdas tapi tidak mampu menggunakan kecerdasannya.

Ah pikiran saya mungkin bertolak belakang dengan banyak orang. Lihat kah, inilah cara hidup yang saya pilih. Saya ingin tahu sejauh apa saya bisa menciptakan kehidupan yang tidak hanya menghidupan diri saya atau keluarga saya sendiri. Tapi juga kehidupan orang lain.

Seandainya saya mati, maka saya selalu bercita-cita bisa meninggalkan kehidupan itu kepada orang lain. Kehidupan yang mungkin akan bertolak-belakang dengan cara hidup kebanyakan. Kehidupan orang asing, orang-orang yang mungkin akan dianggap asing. Dan orang yang tidak takut dirinya dianggap asing.

Temanggung, 7 Maret 2014

Hujan deras sekali diluar sana

Ada empat jenis pemuda di Indonesia

1. Yang pintar tapi tidak peduli

Banyak. Yang ke luar negeri tidak bangga dengan Indonesia, tapi pinter pinter, cerdas.

2. Yang peduli tapi tidak pintar

Yang demo demo dibayar, sok aktif

3. Yang tidak pintar dan tidak peduli

preman, pemalak

4. Yang pintar dan peduli

kita (?)