muhammadakhyar

#bermainmaindengantuhan 17: Tunda

muhammadakhyar:

untuk yang gemar mempermainkan tuhan, untuk yang ingin akrab dengannya

Everyone dies someday, even so, from that death, there are people who do their absolute best to pick up the faintest voices from it.

-Voice-

oleh ayah dari seorang teman. Pertanyaan ini ada hanya karena aku mahasiswa Psikologi. Pertanyaan bermula dari keinginannya untuk mati pada saat yang tepat. Tepat yang dimaksud olehnya adalah tidak terlalu muda dan tidak terlalu tua. Tidak terlalu muda agar dapat menikmati hidup dan banyak bermanfaat bagi yang lain. Tidak terlalu tua sampai-sampai sudah tidak bisa lagi menikmati hidup dan tidak perlu menyusahkan orang lain.

Kalimatnya yang menyentak adalah saat dia mengatakan kepada anaknya, dengan mata mendelik padaku, semacam pesan serius dengan mimik bercanda, “jika bapak nanti sakit-sakitan dan tidak mungkin disembuhkan lagi, ya sudah suntik mati saja.” Itu belum selesai, “bagaimana menurut kamu?”

Karena beliau tampaknya serius dengan pertanyaannya, aku harus memeras kepala untuk memberi jawaban yang sebaik-baiknya, jauh dari kesan menggurui tetapi tetap khas.

Dimulai dengan hela, “itu tindakan yang egois Pak. Bapak hanya memikirkan diri bapak sendiri. Ok, jika dilihat dari sisi bapak, jikalau bapak tetap hidup akan merepotkan yang lain. Coba bapak jadi mereka, apakah bapak bisa melakukan apa yang bapak minta. Kadangkala merepotkan itu tidak ada dalam kamus orang-orang yang mencintai kita. Kadang-kadang mereka lebih memilih untuk direpotkan daripada kehilangan. Hubungan keluarga, hubungan cinta pak, emosional bukan transaksional.”

“Jadi egois ya?”

Aku mengangguk, “ya Pak, egois.”

muhammadakhyar

Teman Perjalanan

muhammadakhyar:

Dalam hidup kita hampir hampir tak bisa tahu, apakah kita adalah pahlawan ataukah korban. Yang kita tahu hidup seperti jalan. Batu awal kita bisa lacak lewat catatan sejarah, tetapi kerikil-kerikil selanjutnya kita tak tahu letak akhirnya. Pada jalan ujung bukanlah pasti, ia mungkin. Dan pada jalan, kita memang tak melulu bicara pemberhentian. Pada jalan kita juga harus bicara tentang teman seperjalanan. Untuk itulah kita perlu bahan-bahan cerita. Agar perjalanan kita tak melulu sepi. Agar duduk kita tak terus di tepi. Karena kita harus sadar sampai ke tujuan adalah kemungkinan. Duduk bersama teman perjalanan adalah kepastian.